Tipe-tipe Sensei di Jepang

Dua bulan setelah kembali dari masa-masa hidup di negeri ‘mimpi’ dan kini saya sedang menikmati momen-momen bersama keluarga dan istri di kampung halaman. Sesekali merenung, banyak kali menghayal, haha. Biar hujan emas di negeri orang, mandi hujan air di kampung sendiri jauh lebih nikmat. Tsah. Oke, para pembaca, itu sedikit intro-nya.

Mungkin akan ada beberapa serial tulisan yang belum saya selesaikan tentang Jepang dan cerita-ceritanya, termasuknya novel yang niatnya ingin diselesaikan sebelum beres Master, ternyata belum juga. Di tulisan ini, saya akan berbagi sedikit cerita mengenai Sensei atau Pak Guru atau juga Professor di kampus Jepang. Kenapa penting ya ? Biar nanti pas ke Jepang nggak kaget kenapa suasana di lab horor banget tak seindah yang dibayangkan sebelum berangkat dulu ? atau tak seindah foto-foto kakak-kakak di Instagram itu lho ?.

Siapakah Sensei ? Umumnya mahasiswa di Jepang akan menyebut pembimbing/ supervisor mereka selama studi. Di lab biasanya ada Sensei besar (daisensei), sensei associate, dan sensei assitant (yang belum boleh membimbing mahasiswa). Di Lab saya dulu Daisensei bisa membimbing sampe mungkin 20 orang mahasiswa, sarjana, master, dan doktor. Keadaan di lab lain mungkin berbeda-beda. Nah, untuk hal tentang tipikal Sensei bisa dibilang juga sangat variatif. Berikut saya sarikan dari beberapa cerita dan pengalaman langsung saya dan kawan-kawan sewaktu menempuh studi di Kyushu University dulu.

  • Sensei Santai. Ini tipe sensei saya banget sih. Kami di lab diwajibkan hadir setiap minggu hari senin pagi, jadwalnya asa-kai (pertemuan pagi) atau kenkyu-kai (pertemuan penelitian), lalu jadwal diskusi wajib untuk grup riset hanya sebulan sekali. Namun, jika ada masalah atau ingin konsultasi di luar itu bisa langsung ke ruangan Beliau. Tidak hanya ke mahasiswa sarjana dan master aja lho, doktor juga gitu, walaupun doktor memang syarat lulusnya lebih sulit dibanding sarjana dan master. Tapi, untuk hal-hal yang menjadi prasyarat studi, sensei saya care banget, kadang-kadang langsung datengin saya pas di lab atau email. Hmm, saya jadi ngerasa labnya terlalu santai dan nggak ada tantangan haha. gaya.
  • Sensei baik hati dan pengertian. Ada sensei yang seperti Bapak bagi mahasiswanya, bahkan sampai kadang ngundang kita dan keluarga di rumahnya. Mendukung kegiatan kita, bahkan nanyain soal keuangan apa masih aman atau nggak bulan ini. Kawan saya ada yang diantar sensei belanja di hari pertama sampai di Jepang. Mereka ngerti bahwa kita jauh dari kampung halaman dengan semua tradisi dan budaya yang beda, khawatir kita punya masalah beradaptasi di Jepang. Sebagai mahasiswa yang mayoritas muslim dari Indonesia biasanya akan berhadapan dengan isu soal agama disana. Sebagian sensei yang sudah punya wawasan yang luas bahkan kerjasama dengan universitas dari negara Islam mereka umumnya sudah paham. Bahkan ada Sensei yang bela-belain cari informasi tentang Islam sebelum si mahasiswa muslim pertama nyampe di labnya. Biar dia tahu apa yang boleh dan nggak. So sweet nggak tuh.
  • Sensei yang terlalu ‘rajin’. Rajin disini maksudnya ya rajin haha. Misalnya, ngadain pertemuan lab tiap hari jam 9 teng teng, terus diskusi dengan mahasiswanya setiap minggu, keluar dari lab dikit ditanyain mau kemana. Mau pulang kampung dibatesin atau malah dilarang karena alasan macem-macem. Di bawah bimbingan sensei kayak gini, S2 pun berasa jadi S3 lho. Umumnya yang S2 itu merem aja lulus di Jepang, bisa melek aja susah lulus haha. Tapi jarang banget kasus S2 molor waktu studinya di Jepang selama ngikutin saran-saran sensei.
  • Sensei ala Bos kantoran. Saya pun kadang nggak nyangka ada sensei yang ngejadiin mahasiswanya kayak laborannya dia. Disuruh handle banyak proyekannya. Hasil dikit dicemberutin, email nggak dibalas ngambekan, nge-email larut malem dan pagi buta. Kadang suka nggak ngertiin kalo mahasiswanya juga masih manusia. Ada curhatan malah yang bilang ke saya “Dulu pas saya ketemu di Indonesia kayaknya ini Sensei baik banget lho, nawarin saya buat PhD di labnya”. Dan sekarang semuanya, ya sudahlah”
  • Sensei PHP. literally senseinya emang seorang pemberi harapan palsu. Kasus telat masa studi di Jepang biasanya hanya dialami oleh mahasiswa Doktoral aja, kenapa ? karena syarat untuk lulus ketat, bisa 2 paper (baca: artikel ilmiah), dan ikut konferensi berapa kali gitu. “Oke, kalau sudah cukup syarat kamu bisa ujian/sidang dan lulus” kata senseinya di awal masa studi. Setelah semuanya beres di tahun ke-3 (tahun akhir bagi doktor umumnya), “Kamu kalo ini ja kurang deh, intinya bisa lulus” Kata senseinya. Masih mending kalo Senseinya ngasih tahu dimana kurangnya, paper kah, konferensi kah atau apa. Ada yang cuma ngsih kode, kamu kurang di kontribusi. Hah, maksuudddmu ?? yang jelas dong ?? Nah saya juga ikutan esmosi karena kawan saya ini sampai 4 tahun lebih masih belum selesai. Ini kejadian nyata ya guys bukan fiktif. Saya dengar 2-3 kasus seperti ini di Kampus saya dulu.
  • Sensei yang ah sudahlah. Ada sensei yang nggak mau ngelulusin mahasiswanya aja. Ditanya kenapa juga nggak mau jawab. “Pokoknya kamu saya selesaikan studinya di lab ini tanpa gelar”. Jangan sampai ketemu sensei yang gini dah. Kisah nyata juga. Nggak detil sih cuma kasunya hampir sama kayak sensei PHP diatas.

Nah itu dia 6 tipikal sensei, sebenarnya nggak seserhana itu sih cuma sengaja saya bikin simpel aja. Bagaimana biar dapat memperkirakan sensei yang mana yang akan kita dekati. Setelah mencari dengan cari ini (sudah saya posting di tulisan sebelumnya), berikut hal lain yang harus dicari perhatikan :

  • Adakah mahasiswa Internasional di Labnya saat ini ? cari dari daftar mahasiswa di web labnya atau di artikel yang pernah diterbitkannya
  • Adakah mahasiswa muslim ? lebih bagus jika dari Indonesia ?. Jika ada nah tanyakan tentang hal semua uneg-uneg kita. Tanyakan juga gimana Senseinya.
  • Jika memang harus, buat kesepakatan di awal apa yang harus dipenuhi agar bisa lulus. Ditanda tangani dan bila perlu dicap agar berkekuatan hukum. Deal-dealnya harus jelas di awal.
  • Jangan ragu untuk berdebat, kadang sebagian Sensei ingin melihat kekuatan argumentasi kita dan keberanian kita.

Itu saja mungkin, khawatir kepanjangan dan tak bermakna. Silakan komen bagi yang ingin menambahkan. Ini semua murni dari opini saya saja.

4 comments

  1. kelanakucom Reply

    Haha.. baca ini mesem-mesem sendiri…
    Apapun negaranya tipikal pembimbing ternyata mirip-mirip ya.. Sekaliber Jepang sekalipun…Yg dpt tipe ke 4.. tinggal kuat2 ngedoa aja kyknya, sambil belajar pramuka. sandi morse semapur dll…
    selamat sudah master. selamat menikmati waktu dengan keluarga.

    • fadhil Post authorReply

      Wah, luar biasa klo dapet yang nomer 4 hehe. Udah teruji nih berarti kak Nuzul menghadapi model sensei gitu. Makasih kak Nuzul, selamat juga sudah Doktor #prokprokprok. Semoga ilmunya berkah dunia akheratt.

  2. Nikmah Reply

    Kak, sebelum apply master apakah kita yang mencari senseinya di web ataukah kita menunggu berkas pendaftaran tersubmit baru bisa mendapatkan sensei?

    • fadhil Post authorReply

      Sebelum submit berkas atau apply baiknya sudah cari-cari sensei mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *