Kisah 1 Tahun di Jepang #1

Tahun 2015 lalu, sekitar pukul 11 siang saya datang ke Fukuoka, setelah beberapa hari sebelumnya di Tokyo. Saat itu, Kyushu University menyediakan penjemputan gratis dari bandara ke asrama yang dituju dengan mengunakan mobil van berukuran sedang. Sempat saya sapa beberapa kawan Internasional yang kebetulan bareng, ada yang dari China dan Vietnam. Memang saat itu bukan kali pertama datang ke Fukuoka, namun tentu akan jadi kali pertama di Fukuoka untuk beberapa waktu yang lebih lama dari sebelumnya, 2 tahun ke depan.

Jujur saya agak bingung merangkum momen satu tahun dalam bentuk apa, momen yang mana yang harus diceritakan. Dan akhirnya daripada tulisan ini terlalu lama ada di draft dan terlalu jauh dari September, maka saya ceritakan beberapa kisah yang ini saja.

Cerita di depan pintu Lift. Ketika saya hendak turun dari lantai 9 kemudian saya naik lift hingga lantai 1. Di lantai satu, ketika pintu sudah mulai terbuka, ada seorang Ibu muda dan anaknya yang berumur 2-3 tahun hendak berlari masuk ke dalam lift. Pintu baru saja terbuka, dan saya baru mau beranjak keluar. Ibu itu menarik lengan anaknya dengan lembut sambil berkata “出る人が先 / Deru hito ga saki / Dahulukan (orang) yang keluar.

Pak Pos dan Undelivered Notice. Di Jepang, perangkat pos masih berlaku, apa saja itu, misalnya : Kotak pos yang berwarna merah di pinggir jalan (sering disebut “ポスト・posuto), mailbox / kotak surat (bukan kata-kata di lagu dangdut koplo Indonesia lho ya). Kotak surat saya yang bernomor 101 setiap 2 bulan pemerintah kota mengirim majalah “福岡だより/ Fukuoka da yori” yang saya sebenarnya tidak pernah mendaftar. Juga sering penuh dengan iklan, mulai dari iklan WIFI, iklan rumah (bordil), iklan Laundry, iklan restoran baru, iklan macem-macem yang saya tak bisa baca haha. Dan tentunya yang paling penting yang dikirim Pak Pos adalah tagihan air dan listrik saya, juga notifikasi dari Bank Fukuoka jika LPDP mengirim bantuan hidup setiap 3 bulan sekali, semua berbentuk 葉書・hagaki/ kartu pos. Kalau sedang belanja Online, sebut saja di Amazon, kadang pengirimannya suka dateng pas siang saat saya masih di kampus. Yang ditinggal Pak Pos jika saya tidak di rumah adalah Undelivered Notice, bahwa ada barang kiriman atas nama Mohammad Fadhillah namun tidak sedang di rumah saat barangnya sampai. Diselipkan selembar kertas kecil warna kuning. Jika ingin meminta dikirim lagi, telpon ke nomor yang tertera disitu dan bisa minta mau dikirim jam berapa agar tidak PHP Pak Posnya haha. Saya telpon dan minta diantar jam 7-9 malam. Dari Masjid bergegas ke rumah agar nggak kelewatan lagi. 19:03 Pak Posnya mencet bel dan ngetuk pintu. Paketpun diterima. Terima kasih Pak Pos, Pak posnya kadang naik motor yamaha jadul warna agak merah dan kadang juga pakai truk lho. Nggak sepedaan kayak dulu puisi jaman SD haha

Setahun tanpa mobil dan motor. Dulu waktu di Bogor lumayan sering naik motor dan sesekali nyupir mobil sendiri. Masih ingat waktu ada mahasiswa pertukaran dari Jepang dulu, mau diajak bonceng pake motor dari temen, dia sontak bilang “Eh, ini naiknya di mana ?”. Saat temen saya cerita itu, dalam hati saya bilang, parah banget sih nih orang Jepang, padahal motor dari mereka semua tapi nggak tau cara naik motor. Usut punya usut, barulah tahu ternyata di Jepang sangat jarang orang pake motor. Kalo pun pake paling Scooter yang cc-nya rendah paling banter 40-50 km/jam. Karena joknya kecil, mustahil banget kalo boncengan. Karena kondisi apato (baca : kosan) yang hanya 3 menit dari lab, rasanya males banget kalau harus beli motor. Kalaupun jauh ya nyepeda bentar atau naik bus atau kereta. Mobil ? Hmm, kayaknya belum butuh-butuh amat lah ya. Belum ada keluarga juga hehe. Kalo pun sudah punya mobil, parkirannya itu cuy yang nggak santai, paling murah 100/jam dan nggak semua tempat. Kalo parkir sembarangan ya siap-siap aja ditilang 15.000 JPY / 1,8 juta rupiah.

Ditegur Polisi pake TOA mobil patroli. “二人乗り方、降りなさい、危ないです!!/ Futari nori kata, orinasai, abunai desu / Yang lagi boncengan berdua, segera turun, bahaya !”. Buseet ditegur pak Polisi pake TOA. Pengalaman buruk banget, apalagi keliatan banget kalo kami 外人/gaijin・orang asing-nya. Itu saat saya sama temen boncengan naik jalan kecil di sekitar kampus Maidashi Univ. Kyushu. Niatnya pengen cepet tapi yaaa, malu deh. Di Jepang dilarang boncengan pake sepeda, kecuali anak-anak atau hewan piaraan dan sejenisnya. Maksimal beban di boncengan itu cuma antara 18-23 kg, makanya dilarang.

Dompet yang hilang. Waktu mau pada foto di perpustakaan Kampus pas Hari Kartini kemaren, saya sepedaan dari lab sekitar 1-2 menit ke perpus. Trus, karena harus masuk perpus dengan kartu mahasiswa, jadi pas udah di depan gate saya rogoh saku jaket. “Lho kok nggak ada dompetku. Hmm, apa jangan-jangan ketinggalan di lab ya ?”. Trus balik ke lab cari di tas, dan nggak ada juga. Mungkin di rumah, ya sudah lah. Akhirnya masuk menyelinap ke perpus haha. Usut punya usut, ternyata di rumahpun tak ada. DOMPET HILANG, tapi yakin kececer di kampus. Dengan agak panik saya nanya temen Cina, dan katanya coba tunggu biasanya ada email dari polisi, atau tanya ke Student Section. Daaan, akhirnya seseorang menemukannya tergeletak di parkir sepeda, pas ujan-ujan, dan ditaro di COOP (koperasi kampus). Pas saya cek kesana, Alhamdulillah. “Tolong sebutkan tanggal lahirnya. Oh ya …..”. “Ini dompetnya, maaf tadi dibuka untuk liat student cardnya. Terima kasih”. #Terharu

—————————————————————————(BERSAMBUNG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *