Hikmah Lebaran di Tanah Rantau

Memang tidak ada nikmat yang bisa menggantikan nikmat berkumpul dengan keluarga besar di hari raya Eid Fitri. Namun kadang kita harus melalui jalan yang tak senantiasa rata dan nyaman, ada dan pasti akan ada saatnya kesempatan untuk berkumpul itu kita kan rindu-rindukan. Entah terpisahkan umur, jarak, waktu, dan kesempatan. Tidak saling berkabar bukan alasan, namun semua pasti sepakat, nikmat bertemu langsung pasti tak kan terbanding dengan saling bertatap via gadget, bukan pengganti, melainkan hanya sekadar pengobat rindu saja.

Eid Fitri 1
“Foto Keluarga” saat semua jauh dari keluarga

Walau sudah merantau sejak 2009 dulu ke Pulau Jawa, tapi hamir setiap tahun ada momen puasa dan lebaran bersama keluarga besar di Belitung. Jika memang 3/4 Ramadhan di Bogor, maka 1/4 pun rasanya lebih dari cukup bahagia jika bisa dihabiskan di rumah hingga hari raya menjelang.

Di Jepang, Alhamdulilah sudah dua Eid dilalui, pertama Eid Adha di Tokyo, waktu itu sempat diminta untuk mimpin takbiran hehe. Saya saat itu sengaja mengatur tiket agar bisa sampai di Jepang pas 1 hari sebelum sholat Eid, ingin merasakan suasana yang beda. Lagipula di Indonesia juga Eid Adha tidak dirayakan semeriah Eid Fitri, dan jarang pulang kampung juga jadinya.

Nah, setelah 9 bulan sejak saat itu, Alhamdulilah dapat merasakan suasana Ramadhan dan Eid di “kampung” Hakozaki, Fukuoka. Rasa-rasanya lebih Indah Ramadhan di sini lho daripada di Indonesia. Kok bisa ya ? Masjid aktif banget, banyak kegiatan setiap harinya. Wajah-wajah sumringah dari saudara seiman dari berbagai bangsa dan ras. Iftar (buka puasa) disediakan setiap hari, di 10 terakhir Ramadhan juga ada Qiyamullail dan Sahur bareng (gratis lagi). Ada lomba tahfizd dan cerdas cermat, macem-macem lah.

Tahun ini Eid Fitri jatuh pada tanggal 6 Juli 2016, dan hari itu saya ada jadwal kuliah dan group discussion bareng para Sensei. Waduh berabe urusan kan, mana mulai Sholat Eid jam 9 pulak. Tapi ternyata beberapa hari sebelum itu, kuliah sudah dicancel, kata Sensei memang tidak ada tatap muka. Nah, tinggal diskusi nih berarti. Agenda makan-makan lontong bareng kawan-kawan bakal terancam kalo diskusi tetap lanjut, tapi diskusi ini hukumnya wajib karena ini momen sensei ngevaluasi progres kita. Akhirnya saya putuskan untuk ikut diskusi dulu lah, jadi pas acara makan-makan saya kabur bentar dan nyiapin naskah 20 menit terus diprint dan capcus ke ruang diskusi. Di ruang diskusi saya bisik-bisik dengan group leader kami, “Tan-san, saya boleh duluan presentasi nggak ? Mau cabut soalnya. Hari ini “muslim holiday”. Miss Tan (Orang China) bilang “Ah, Okay. No problem. You will be the first then let the sensei know you want to leave early from discussion“. Mamata-san, peneliti India, bisik ke saya, “You have festival today right ? You dont go ?”. Setelah selesai diskusi dan dikasih saran ini itu, Sensei juga agak stress kali ye liat kemajuan ini anak kok nggak maju-maju haha. Akhirnya, saya bilang mau pulang dulu kemudian Sensei bilang “Ah, I understand. This is the end of Ramadan nee. This (day) must be so important for you. You can go now“. Yattaaaaa ~~~. Capcus lah langsung ke tempat acara makan-makan. Sebelumnya memang semua yang muslim udah izin untuk libur hari itu dengan nulis di papan pengumuman di lab.

Eid Fitri 2
Foto makan-makan selepas sholat Eid. Kite ngapling “Culture Cafe” disaat orang-orang sibuk di lab masing-masing. Kalo di luar panasnya minta maaf soalnya

Hikmahnya dari lebaran di sini adalah betapa bersyukurnya jika dimudahkan oleh orang disekitar kita untuk merayakan apa yang kita yakini, dalam ibadah maupun hari raya. Tentu tidak seperti di Indonesia yang sebelum dan sesudah Eid ada banyak libur, di sini mah nggak ada bedanya. Karena hidup di negara muslim mayoritas jadi seakan-akan saya tidak tahu bagaimana yang dirasakan kaum non-muslim lain saat merayakan hari raya mereka. Ternyata hari raya, apapun itu, memang sangat spesial, tentu bagi setiap pemeluknya. Jika kita tidak menyakini maka cukuplah dengan berempati dengan yang sedang merayakan, permudahlah urusannya agar Ia bisa merayakannya dengan hikmat dan bahagia.

Jika kita tidak bersaudara dalam iman, kita masih bersaudara dalam kemanusiaan

Fukuoka  2 Syawal 1437 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *