Gempa Kumamoto 2016

Malam itu (41/04/2016), saya yakin semua orang sedang beraktivitas dengan tenang seperti biasa. Saya saat itu tu bersama beberapa kawan sedang khidmat belajar bahasa Jepang di salah satu apato (apartemen) kawan di daerah Hakozaki. sekitar pukul 9:30 JST malam itu, semua HP serentak berbunyi, “teeet teeet teeet, jishin desu, jishin desu” artinya “gempa, gempa”. Karena saat itu pusat gempa bukan di sekitar Kota Fukuoka, jadi peringatan itu sampai dulu beberapa detik sebelum gempa. Efeknya kaget dulu baru panik. Line warga Indonesia Fukuoka pun langsung ramai. Maklum walaupun sama-sama dari negara cincin api tapi tidak semua orang Indonesia pernah menarasakan gempa. Saya sendiri pernah dulu tahun 2009, paling cuma 2 atau 3 SR pas lagi tiduran di kamar asrama IPB, waktu itu saya langsung loncat jendela hahaha.

img_4007
Gempa bisa diupdate dari apps di handphone (Yurekure)

Seperti yang sudah pernah saya lihat waktu orientasi mahasiswa baru dulu di kampus, kalo gempa hal yang pertama dilakukan adalah ngumpet di kolong meja, atau mencari bantal untuk nutupin kepala. Sementara kalo banyangan saya di Indonesia, pasti yang pertama dilakukan adalah kabur ke lapangan.Itulah bedanya Jepang dan Indonesia, saking seringnya gempa disini, pada saat kekuatan gempa mencapai angka tertentu baru diminta untuk keluar.

Sejak hari itu saja selalu update website JMA (Japan Meteorogical Agency) untuk update info tentang gempa yang terjadi di Kumamoto dan sekitarnya. Yang paling besar adalah 7.3 SR, sampai ke Fukuoka sekitar 4 SR. Sampai April kemaren, gempa yang sudah terukur lebih dari 1000 kali dengan intensitas 1-4 di Kumamoto, korban jiwa pun sampai lebih dari 50 orang. Alhamdulillah, tidak ada WNI yang jadi korban, namun banyak sekali yang mengalami trauma karena gempa yang terus-terusan.

WNI di Fukuoka, baik dari upaya sendiri maupun bersama Masjid Fukuoka beberapa kali ikut terlibat menyalurkan bantuan ke daerah terdampak, tentu juga KBRI. Tim bantuan KBRI katanya jadi negara pertama yang datang memberikan bantuan ke Kumamoto. Sebagian WNI yang di Kumamoto pulang ke Indonesia, sebagian lagi mengungsi ke daerah sekitar yang lebih aman, seperti Fukuoka, Hiroshima, juga ada yang samapi ke KBRI Tokyo. Sebagian tidak bisa kembali ke rumah karena saluran gas dan air masih terputus, juga banyak rumah yang rusak akibat gempa.

Nah, beberapa saat setelah gempa mulai menurun dan keadaan mulai membaik, konbini (convenience stores) dan supermarket mulai buka, makanan sudah bisa didapat namun karena banyaknya kepedulian dari warga sekitar, maka bantuan terus datang. Salah seorang kawan dari Kumamoto bercerita, di Masjid Kumamoto mereka terus membuka pos untuk mendistribusikan bantuan namun tidak ada warga yang mau menerima bantuan itu. Mungkin mereka menganggap diri mereka bukan orang yang berhak menerimanya, apalagi barang-barang itu sudah bisa dibeli sendiri di toko. Kalau di Indonesia, ceritanya pasti beda, hehe. Semoga banyak hikmah yang bisa diambil dari bencana ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *