Memberi harga untuk sebuah Kejujuran di Jepang

Sewaktu hendak jalan ke Kurume, Fukuoka-ken pagi tadi, sambil buru-buru naik tangga stasiun Kaizuka-Hakozaki, ada iPhone 6 (bisa jadi seri 6s, karena bagian belakangnya ditutup casing) tergeletak di tangga stasiun. Saya yakin pasti belum lama berada di situ tapi mungkin pemiliknya belum sadar kalau HPnya jatuh. Harganya ? Kawan-kawan bisa tebak saja ya.

Kalau di Indonesia, saya sulit untuk percaya HP itu akan kembali ke pemiliknya lagi. Tapi di Jepang, kita banyak belajar untuk kembali mempraktikan hal-hal luhur yang sebenarnya sudah ada dan lama diajarkan di budaya kita. Oleh karena suatu saat mungkin juga kita ada di posisi “kehilangan” seperti itu, saya langsung menimbang ke posisi saya pribadi mengingat itu bukan barang murah. Namun, ada hal yang paling penting : penting untuk belajar rasa malu, malu karena memiliki barang yang bukan hak pribadi.

Tulisan ini senada dengan tulisan Pak Iqbal Djawad (Mantan Atase Pendidikan KBRI Tokyo) di kompasiana yang berjudul “Mengasah Kepekaan Nurani”. Beliau menulis beberapa kisah tentang kejujuran yang masih “dipelihara baik” di masyarakat Jepang antara lain : seseorang menemukan amplop berisi uang 10 juta yen (1,2 M) di toilet umum. Katanya pemilik uang tersebut sengaja menaruh uang disitu untuk disumbangkan ke korban bumi di Jepang maret 2011 lalu. Cerita lain, korban-korban Tsunami yang menemukan cek yang bernilai 359 juta, 233 juta, 11,6 milyar hingga 700 milyar rupiah di beberapa tempat. Meski yang menemukan adalah korban tsunami yang rumahnya porak-poranda, makan dan tidur di penampungan namun mereka tidak satupun uang itu mereka ambil. Semuanya diserahkan oleh yang menemukannya ke Polisi untuk dikembalikan ke pemiliknya. Selain cerita Beliau, cerita yang belum terlalu lama, di program “Kokoronotomo” pernah dilakukan eksperimen sosial dengan menaruh dompet di salah satu spot keramaian (mungkin di Tokyo). Ada kamera yang sengaja dipasang untuk merekam reaksi orang terhadap dompet tersebut. Banyak yang lalu lalang, dan kemudian ada salah seorang yang melihat dompet itu. Tampak celingukan, noleh ke kiri kanan, dan kemudian mencari kantor polisi terdekat untuk mengembalikannya. Memiliki barang yang bukan hak mereka sepernya bukan opsi yang ada di budaya mereka saat menemukan barang seperti itu.

Ini salah satu cerita menarik dari tulisan Pak Iqbal Djawad. Salah seorang staf saya orang Jepang yang telah bekerja di kantor saya sejak tahun 1963, seorang wanita berumur 80-an yang masih gesit, selalu mempertontonkan suatu ketulusan yang luar biasa. Di saat-saat akhir tugas saya, beliau sering sekali mengatakan beri contoh bukan bicara akan mempunyai dampak yang sangat besar sehingga semesta pun akan mengaminkan apabila kita melakukan sesuatu dengan tulus tanpa pretensi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Ketika saya mengajak makan bersama serta akan memberi sebuah hadiah kenangan karena beliau telah membantu dan melayani seluruh tugas saya selama kurang lebih 3.5 tahun, dengan sopan dia mengatakan “Saya tinggal sendirian dan tidak butuh uang ini”. Lebih baik uang untuk itu di beri ke orang-orang yang membutuhkan. Ucapan ini sama persis dengan apa yang diucapkan oleh para dermawan-dermawan yang tidak ingin ditahu namanya.

Oh ya, hampir lupa hehe. Iphone 6 yang saya temukan di tangga itu, saya berikan ke petugas stasiun. Terlihat mereka sigap untuk mencari pemiliknya. Nah, karena kereta saya sudah mau berangkat, jadi saya tinggalkan saja Bapak-bapaknya, semoga kembali ke pemiliknya. Lagian udah nggak aneh juga sama HP begituan 😁. So, jangan biarkan hal-hal luhur seperti demikian tergerus dari diri kita. Kejujuran dan kebaikan itu mata uang terbaik dimanapun kita berada dan yang paling penting seberapa mahal kita menakar harga kejujuran itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/iqbaldj/mengasah-kepekaan-nurani_5694964a50937333075713a0

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *