Teknik Tradisional Memanen Lebah Madu Liar di Indonesia

Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai keragaman lebah madu tertinggi di dunia. Salah satu dari 7 spesies lebah madu asli Indonesia yang dianggap sebagai spesies utama penghasil madu (di luar Pulau Jawa) adalah Apis dorsataApis dorsata atau sering juga disebut dengan “Giant honey bees” sampai saat ini belum dapat dibudidayakan/diternakkan seperti beberapa jenis lebah lain seperti : Apis meilifera, Apis cerena, Apis nigrocincta, dan lainnya. Di Indonesia terdapat dua subspesies dari Apis dorsata yaitu : A.dorsata dorsata (di seluruh wilayah Nusantara) dan A.dorsata binghamii (hanya di Pulau Sulawesi dan sekitarnya).

Masyarakat Indonesia secara tradisional mampu mengatasi hal tersebut dengan membuat “relung buatan” atau microhabitat untuk mempermudah menemukan sarang A.dorsata dan juga mempermudah saat pemanenan. Inilah teknik tradisional yang umum digunakan masyarakat Indonesia (Hadisoesilo S) :

  1. Sunggau – Sunggau merupakan teknik yang sudah digunakan masyarakat bangka Belitung sejak 3 dekade lalu. Sunggau adalah sebatang pohon yang diposisikan horizontal dengan kemiringan 15-30 derajat. Ujung atas kayu dipasang mengikuti tinggi vegetasi disekitarnya, ujung bawah dipasang agak rendah. Sunggau bisa dibuat di daerah hutan sekunder atau di daerah yang agak kering. Satu hal penting dalam membuat sunggau adalah, pada bagian atas sungau dipastikan terbuka ke lingkungan luar (tidak terhalang vegetasi). Menurut beberapa sumber, tingkat keberhasilan sunggau (dihinggapi lebah madu) cukup kecil sekitar 10-20%, dan sangat tergantung dengan musim. Berikut sketsa sunggau yang digunakan masyarakat Bangka Belitung :Screenshot 2015-12-25 23.12.10
  2. Tikung – Tikung adalah teknik untuk memancing lebah madu (untuk bersarang) yang telah digunakan lebih dari satu abat oleh masyarakat di daerah sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Tikung sendiri terlihat seperti sebuah papan kayu yang ditempelkan kedua ujungnya di cabang dalam pohon yang sama. Cabang/dahan yang digunakan hendaklah memiliki minimum tinggi 1,5 meter dari tanah (walaupun saat musim hujan). Masyarakat Kapuas ini memiliki tanda alam untuk mengetahui apakah madu siap untuk dipanen atau belum, yaitu ketika bunga terakhir dari pohon “kayu utan/ Carallia bracteata” mekar. Screenshot 2015-12-25 23.53.44
  3. Tingku – Tingku dibuat secara tradisonal oleh Desa Kelei, desa di dekat danau Poso, Sulawesi Tengah sejak 1930an. Tingku dibuat dari papan atau kayu-kayu pohon dengan panjang 2-3,5 meter. Lain hal dengan dua metode sebelumnya, tingku umumnya dibuat secara permanen sehingga kayu yang digunakan adalah kayu yang kuat. Ciri lainnya adalah kayu yang digunakan untuk membangun tingku terdiri dari jenis kayu yang memiliki aroma tertentu untuk mengundang lebah madu bersarang disitu. Tingku dibangun di daerah yang berbukit tampak seperti di sketsa di bawah ini

 

Screenshot 2015-12-25 23.31.51

Karena berasal dari Bangka Belitung saya pernah ikut saat pemanenan madu dengan metode Sunggau yang berlokasi di Desa Mentawak, Kecamatan Kelapakampit Belitung Timur. Cerita selengkapnya dapat di sini.

 

Sumber : Artikel Soesilawati Hadisoesilo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *