Dejima, Nagasaki – Sepotong Pulau Penuh Sejarah Part 1

IMG_0915 (800x800)
Dejima saat ini. Atas : Gereja Protestan Pertama di Jepang, Kanan bawah : Penjelasan tentang Gereja (dekat pintu timur (East Gate), Kiri bawah : Miniatur Dejima

Karena kita tidak tahu cerita dibalik suatu benda, bisa jadi kita lantas mengabaikannya. Sebuah jam tangan bisa jadi nilainya berbeda menurut setiap orang, ada yang biasa saja, ada yang sangat berharga (karena pemberian orang tua) dan lainnya. Ya, sama seperti saya. Ketika mengunjungi tempat ini “Dejima (出島)” di Nagasaki, suatu kesan yang muncul setelah melihat tempat ini adalah “Ini apa sih ?“. Cuma ada gereja tua, miniatur bangunan gitu, lapangan badminton yang dulu dipake sama orang belanda, bangunan-bangunan gudang (warehouses). Serasa nggak meaning banget haha. Boleh disimpulkan kunjungan tidak membuat saya excited, tidak seperti tempat sebelumnya Nagasaki Atomic Bomb Museum.  Beberapa hari selepas kunjungan itu, saya pun buka-buka selebaran Dejima yang masih tersimpan rapi. dalam hati “yah lumayan lah buat ngisi-ngisi tulisan di blog kan, haha. Wow, ternyata sepotong pulau itu punya sejarah panjang. Membacanya membuat kita balik ke masa Kapal-kapal asing Portugis dan Belanda yang menyinggahi Jepang sekitar abad 16. Oke, kita sedikit akan menapaktilasi sejarah Jepang. #mulaiserius #lebay

Kedatangan Portugis dan Sekilas tentang Kristenisasi di Jepang

Sejarah mencatat, Pelabuhan Nagasaki mulai dibuka untuk transaksi perdagangan sekitar tahun 1570 M. Tahun 1571, kapal Portugis pertama masuk ke pelabuhan itu. Selain membawa misi perdagangan, bangsa Portugis juga membawa misi penyebaran agama Nasrani. Namun beberapa sumber nyebut, Francis Xavier (dari Basque) disebut sebagai Missionaris Nasrani pertama yang datang ke tanah Jepang pada tahun 1549. Dari tahun 1549 sampai ke tahun 1638 M saat pemberontakan Shimabara meletus, agama Nasrani menyebar di Jepang, dari mulai petani-petani sampai penguasa-penguasa daerah di Jepang hingga pada tahun 1580-an ada 200 gereja yang berdiri dan melayani sekitar 150.000 orang umat Nasrani di Jepang. Sumber lain menyebutkan pada selang itu 760.000 orang Jepang memeluk agama ini. Akan tetapi, saat Shogun Tokugawa mengambil alih kekuasaan di Jepang, penyebaran agama Nasrani mulai dipersempit dan akhirnya dilarang total pada tahun 1614. Untuk tujuan itulah akhirnya pulau “Dejima” yang berbentuk seperti kipas ini dibuat, dengan biaya 400 juta JPY. Shogun pada masa itu, Tokugawa Iemitsu, ingin melokalisasi kaum pendatang Portugis dan penyebar agama Nasrani di pulau itu, mereka tidak bisa dengan bebas lagi menyebarkan agama Nasrani ke penduduk lokal Jepang.

dejima
Sketsa Pulau Dejima. Sumber : “Plattegrond van Deshima” by Isaac Titsingh (wikipedia)

Tentang Pulau Buatan Dejima

Pulau buatan itu berukuran 15 hektar yang kemudian dinamai “Dejima” mulai dibuat pada 1634 dan selesai dua tahun berikutnya. Setelah selesai dikonstruksi, semua orang Portugis di lokalisasi di pulau itu. Sejerah kemudian berjalan dan mencatat pada tahun 1638, Shogun menjadi sangat marah dengan orang-orang Portugis karena meletusnya pemberontakan di Shimabara (daerah dekat Nagasaki). Agama Nasrani dan pemeluknya dianggap sebagai salah satu pemicunya, padahal di sisi lain, pemberontakan itu dipicu oleh penetapan pajak yang tinggi oleh Shogun yang berkuasa saat itu.  Pada 1639 M, sejak itu Shogun kemudian melarang kapal-kapal Portugis untuk singgah ke Jepang dan akan membakarnya jika sampai terjadi. Pulau Dejima sempat tidak berpenghuni sampai kemudian Perusahaan Trading Belanda dipindahkan dari Hirado ke pulau ini tahun 1641 M.

Kedatangan Belanda dan manuvernya di Jepang

Lain Portugis lain juga Belanda. Sejarah soal Belanda sampai di Jepang terjadi pada tahun 1600, ketika sebuah kapal asing bernama “De Liefde” (Belanda) kandas di Bungo (Pref. Oita). Singkat cerita, atas diplomasi yang ciamik dari seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris Willian Adams kepada Shogun Tokugawa Ieyasu, Belanda mereka diizinkan oleh Shogun untuk membuat perusahaan trading di Hirado, begitu juga Inggris. Pelabuhan sempit itu pun berubah menjadi tempat persaingan sengit pedagang dari Belanda, Inggris, Cina dan juga Portugis.

Setalah pemberontakan Shimabara meletus tahun 1638, Portugis menjadi bangsa yang terusir dari Jepang. Saat itulah Belanda menjadi “penguasa” perdagangan internasional di pelabuhan Jepang. Mengapa Shogun masih percaya dengan Belanda ? Jawabannya adalah karena Belanda berhasil mendapatkan kepercayaan Shogun dengan membombardir Kastil Hara (tempat pemberontak Shimabara berlindung) saat pemberontakan meletus. Ckckckck, jago juga taktik si Belanda ini ye.

Dejima kini menjadi “milik” Belanda

Saat Portugis diusir dari Dejima, Belanda diminta pindah ke Dejima pada tahun 1641. Sampai berakhirnya periode Isolasi Nasional Jepang berakhir tahun 1859 M,  tempat ini merupakan satu-satunya titik kontak antara Jepang dan asing selama 218 tahun.

Tulisan ini sebenarnya belum banyak membahas tentang Dejima sendiri, baru sejarah yang membuat pulau ini dibentuk saja. Karena khawatir terlalu panjang, saya akan teruskan di tulisan selanjutnya.

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *