Selamat Hari Ibu dan Ayah

ayahibu copy

Pernahkah kita di suatu waktu merasa bahagia terlahir ke dunia ini ? ataukah pernahkah kita merasa mengapa saya dilahirkan ? atau mungkin pernyataan yang lebih frontal, mungkin lebih baik saya tidak dilahirkan di dunia ini. Ungkapan dan pertanyaan pesimis yang tidak bisa dijawab kecuali oleh Pencipta kita sendiri, Allah Azza wa Jalla. Namun, sebelum itu perasaan bahagia terlahir ke dunia mungkin yang sering kali kita alami. Ketika naik kelas saat SD, bermain dengan teman, dibelikan sepeda baru, dan lainnya. Allah pasti punya maksud mengapa kita dilahirkan ke dunia ini untuk menjadi hambanya dan Allah juga yang pilihkan kita akan lahir dari rahim siapa. Urusan kita kini bukan lagi mempersoalkan kenapa kita dilahirkan, namun mencari tujuan saya (yang telah) dilahirkan ini. Hari-hari kita adalah hari-hari yang harusnya dipenuhi oleh pencarian jawaban pertanyaan itu.

Ibu dan juga Ayah. Timpang rasanya kalau hanya mengingat Ibu saja. Tak banyak cerita yang ada di kepalaku saat aku kecil. Pastinya aku selalu merepotkanmu dan sampai sekarang pun. Aku terharu ketika kau bekali aku dengan makanan ketika hendak kembali ke perantauan. Semuanya lengkap. Sampai sendok plastik. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah aku minta. Ayah, aku masih ingat ketika merepotkanmu merengek ingin membeli otoped yang kulihat di majalah. Sampai ke Manggar kita mencari, malah orang tokonya yang bingung karena baru mendengar nama itu. Ibu sudah mulai agak gusar, namun Ayah berkata “Nanti ┬ádia kecewa kalau tidak dibelikan” dan aku baru menyadarinya sekarang. Terima kasih. Ibu dan Ayah, terima kasih sudah berkenan melahirkan dan membesarkanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *